Hamil

Ini ceritaku waktu aku hamil anak pertamaku. aku menuliskannya kembali di blog agar aku dapat membacanya kembali dan teman-teman boleh membacanya. Sebelumnya aku menulisnya di catatan harianku. Silahkan dibaca ya ceritanya…

Ada yang aneh dengan bentuk badan, selain perut terlihat menbuncit tak berpinggang, kedua payudara pun menunjukkan tanda membesar dan nyeri-nyeri. Dirasa waktunya menstruasi telah tiba, ternyata sampai lewat 4 hari, 7 hari, mens yang ditunggu tak kunjung tiba. Ibu mertua sudah menunjukkan tanda kekhawatirannya. Jika benar ternyata menantunya hamil.

“Kamu udah mens?” pertanyaan ini yang kerap dilontarkan disetiap pagi, saat kami sedang mempersiapkan sarapan pagi plus makan siang dan malam. “Hmm..sampai saat ini belum bu”. “Jangan-jangan kamu hamil, besok ke dokter aja”. “Iya bu, mungkin nanti coba pakai test pack dulu”.

Kekhawatiran ibu mertua sedikit tidak beralasan. Beliau Cuma dan hanya mengkhawatirkan cucunya bila telah lahir nantidan dihitung-hitung waktunya hanya selisih sebulan saja dengan kepergiannya ke tanah suci. Masya Allah. Hanya karena alas an itu beliau sayangkan. “Bagaimanapun bila waktu itu telah tiba, bila ibu dikasi kesempatan untuk berangkat ke tanah suci jangan sampai kesempatan itu ditunda hanya karena lahirnya seorang cucu”. Itulah yng aku sampaikan kepada beliau. Jangan terlalu mengkhawatirkan kami, Insya Allah bagaimana caranya, kami sebagai pasangan suami istri harus mampu menghadapapi dan menjalani babak baru dalam kehidupan kami.

Kekhawatiran ibu mertua tidak hanya itu, sebagai penghuni rumah keluarga Santo, aku diharapkan dapat membantu dan memanage acara kepulangan ibu dan bapak mertua dari tanah suci. Tidak terbanyangkan jika aku sudah melahirkan nati, siapa yang akan membantu mengurusnya sementara aku pasti pun sibuk dengan bayiku. Harusnya kekhawatiran itu tidak perlu dikhawatirkan oleh ibu mertua. Yang harus dipikirkan adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya sebagai calon haji baik mental maupun spiritual. Aku dan suamiku tidak perlu dikhawatirkan karena kami harus belajar melewati masa-masa dalam rumah tangga kami dan mencari jalan keluar dari setiap permasalahan tanpa kekhawatiran dari ibu mertua.

Yang kurasakan malah ibu mertua menjadi terlalu mengurus rumah tangga kami terlalu jauh. Dan reaksinya setelah mengetahui hasil test urine yang kulakukan bahwa aku positif hamil bukannya senang tapi malah seperti menyayangkan kenapa aku secepat itu hamil. Aku ingat sewaktu aku baru menjadi pengantin, ibu mertua menyuruhku untuk tidak segera hamil dan menyarankan untuk menggunakan pil sebagai alat kontrasepsi. Hal ini sangat bertentangan dengan keinginanku. Aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang mandiri, kami seiap anak diberikan kepercayaan untuk memilih dan menjalankan pilihan kami itu dengan sebaik-baiknya. Karena itu, ketika mendengar ibu mertuaku menyuruh hal yang bertentangan dengan keinginanku, aku menjadi seperti berontak, tak ingin hidupku diatur-atur olehnya.

~ oleh irnariyani pada Mei 17, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
nurulmuchrodi's Blog

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

kebun jeruk!

untuk berbagi kesegaran

Rajutan Anak Indonesia

Produk Karya Anak Indonesia

wajahbengkulu

Just another WordPress.com site

Techno and Education

Sekilas Berita Tentang Teknologi Masa Kini

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: